Optimalisasi Peran OSIS sebagai badan eksekutif sekolah:

Sekolah merupakan tempat untuk menuntut ilmu paling populer saat. Tak dipungkiri lagi kan, bahwa hampir semua tokoh-tokoh yang menonjol di Indonesia dipoles, ditempa dan dibentuk di tempat yang disebut sekolah. Cuma hampir semua, ada juga yang dibentuk oleh kerasnya realita kehidupan dan kejamnya lingkungan, seperti Andre Wongso. Berbeda dengan negara di Timur dan Barat sana. Tokoh-tokoh yang menonjol ditempa secara informal di tempat mana pun yang memungkinkan terjadinya transfer ilmu. Contohnya Abraham Lincoln yang Cuma satu tahun mengecap pendidikan formal namun mampu menguasai seluk-beluk hukum dan akhirnya menjadi seorang presiden. Belum lagi Imam Syafi’i yang begitu kerasnya beliau belajar tanpa adanya subsidi edukasi dari pemerintah, terlalu banyak contoh diluar yang begitu hebat dan mampu menembus keterbatasan yang ada walau hanya dengan bekal niat dan action. Bukannya pendidikan Indonesia belum berhasil, sebenarnya sudah berhasil namun belum mampu mengubah budaya kependidikannya sendiri. Sehingga dikatakan berhasil melalui sebuah tolak ukur kualitas terendah pendidikan di negara lain.
Kali ini penulis tidak bermaksud untuk membahas sekolah dalam sudut pandang konvensional dan tidak pula menjadikannya objek benchmarking dengan negara luar. Kali ini penulis bermaksud untuk membahas sisi lain dari sekolah yang biasanya dianggap “terlalu” sepele dan dianggap hanya urusan “politikus”. Yakni tentang atmosfer demokrasi dan perpolitikan di sekolah.
Dilihat dari eksistensi organisasi yang muncul disekolah. Tidak dipungkiri lagi, yang hanya berhak beridiri di sekolah hanya “OSIS” yang merupakan akronim dari Organisasi Siswa Intra Sekolah. Kemonarkian kolektif ini semakin kuat karena adanya keputusan-keputusan formal, seperti Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Menpora nomor 0445/U/1984 dan Nomor 0052/Menpora/84, Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 0641/C/1984 sampai pada Surat Dirjen Dikdasmen Nomor 13090/C/1.84.
Dengan adanya organisasi tunggal ini, memang ada untungnya namun sangat banyak kerugiannya. Dengan mengabaikan kekurangsadaran kebanyakan siswa dengan eksistensi organisasi di sekolah, sesungguhnya dengan adanya monopower tadi malah menurunkan kemampuan siswa untuk berdiplomasi dan leadership skill. Masalah pendanaan, mungkin sekolah yang akan kebingungan, mana yang lebih diprioritaskan apakah organisasi yang ini atau yang itu. Tapi sebenarnya dengan itu sekolah dapat lebih selektif mana kegiatan yang lebih konstruktif.
Masalah organisasi yang hanya satu di sekolah memang sangat sulit untuk diubah. Selain adanya perbedaan pendapat juga karena adanya pertentangan kepentingan. Oleh karena itu, selanjutnya akan dibahas masalah optimalisasi peran OSIS sebagai bagian dari badan eksekutif.
Berpijak dari demokrasi secara definitif seperti yang diungkapkan oleh Abraham Lincoln dan Trias Politica-nya John Locke. Maka akan lebih dipahami kentalnya perpolitikan di sekolah. Secara umum, kebanyakan sekolah di Amuntai masih meletakkan jabatan eksekutif, legeslatif, yudikatif dan federatif di tangan sang kepala sekolah. Hanya sebagian kecil dari “power”nya tersebut yang diwakilkan kepada badan-badan tertentu. Contohnya saja adalah MPK dan OSIS sebagai bagian dari badan eksekutif, sedangkan yang lainnya berada di tangan kepala sekolah.
Agar lebih efektifnya, langsung saja penulis merangkaikan pengalamannya di OSIS dan MPK, sinergisitas antara kebijakan kepsek dan eksistensi OSIS di sekolah sebenarnya mempunyai peran yang sangat besar dalam memajukan aktivitas ekskul di sekolah. Yang tak lain ujung-ujungnya mampu membuat citra sekolah lebih baik. Alasannya tidak apa-apa, tapi memang kalau hanya mengandalkan pembina ekskul, bidang tersebut hanya “lari” di tempat. Kebiasaankan?, ada “itu tuh” ekskul jalan. Walaupun tidak semuanya, ada juga pembina yng ikhlas. Semoga pembina ekskul semuanya begitu. Keunggulan dengan mempercayakan OSIS sebagai penggerak ekskul adalah networkingnya dan mudahnya akses info tentang ekskul tersebut. Sehingga ekskul tetap berjalan kondusif. Kan jadinya dari murid, oleh murid dan untuk murid.
Birokrasi di OSIS pun lumayan rumit. Karena secara umum the responsibilityflow adalah dari OSIS ke MPK ke Pembina lalu ke Wakasek Kesiswaan dan ujung-ujungnya Kepsek. Mengenai kelemahan dan keunggulan aliran pertanggungjawabannya mungkin tidak usah dibahas kali ini. Apakah itu terlalu rumit atau sudah cukup biarlah menjadi bahan pelajaran kita, tapi dari aliran tersebut semakin menguatkan asumsi kalau OSIS hanya kepanjangan tangan dari kepsek. Begitu pula dengan MPK, walaupunnamanya Majelis Permusyawaratan Kelas tetapi masih harus tunduk dengan keputusan yang dikeluarkan oleh “sang pemimpin.”
OSIS dan MPK memang badan eksekutif yang kedudukannya lumayan penting disekolah. Selain fungsionalnya tadi, dengan adanya “organisasi anak bawang” ini juga sebagai media untuk menanamkan jiwa demokrasi pancasila yang sudah dipraktekkan oleh founding father kita. Contohnya dengan adanya pemilu ketua OSIS yang dilaksanakan pertahun. Walaupun sederhana, namun sudah cukup membantu dalam memahami hakikat politik.
Disadari atau tidak, dari pengamatan penulis beberapa tahun. Kebanyakan OSIS di Amuntai masih berjalan kurang efektif mampu membantu meningkatkan kualitas sekolah baik dari segi edukasi maupun nonedukasi, seperti kerajinan tangan, pramuka dan keolahragaan. Bukannya sok tahu, tapi itu realita kan? Bahkan kebanyakan guru berpikir kalau menjadi pengurus OSIS itu hanya buang-buang waktu saja. Gimana OSISnya mau semangat, betul tidak?
Sehingga walaupun berat, penulis disini telah meramu beberapa obat yang ada kemungkinan dan insyaALLAH jika diamalkan akan mampu mengoptimalisasi peran OSIS di sekolah, yakni :
AD/ART Yang jelas dalam OSIS
OSIS dirasa sangat kurang kinerjanya memang karena tidak didasari dengan bekal yang kuat dan jelas. Lihat saja, pergantian OSIS setiap tahunnya hanya dijadikan sebagai sebuah ritual yang haram jika tidak dilakukan. Yang parah lagi, kebanyakan dari pengurus OSIS bingung OSIS tersebut mau dikemanakan. Sehingga timbullah kaidah “Copy-Paste” agenda kegiatan dari kepengurusan sebelumnya. Hal inilah yang menyebabkan OSIS kadang disebut sebagai organisasi”manja”. Mungkin kepengurusannya tak patut untuk dipersalahkan dalam hal ini, yang patut ditanyakan “ apakah AD/ART benar-benar ada disekolah tersebut? Atau hanya tahu namanya dan bingung bagaomana bentuknya. Yang parah lagi, ada sekolah tertentu yang menyebutkan bahwa “ OSIS dan MPK bergerak berdasar pada anggaran dasarnya” , tapi statement itu hanya dijadikan formalitas dalam pelantikan tanpa ada bukti yang konkrit tentang anggaran dasar tersebut.”
Kejelasan MoU dari Kepsek
Di sekolah, kepsek merupakan posisi yang sangat rumit amanahnya. Empat badan,kepsek lah yang mengcopernya. Dari legeslatif, eksekutif, yudikatif sampai federatif. Namun disinilah urgensi dari kesepahaman antara kepsek dengan OSIS yang sebagai badan eksekutif yang langsung terjun “bebas” kelapangan. Dengan kesepahaman tersebut, nantinya aktivitas-aktivitas OSIS jadi lebih kapabel untuk merealisasikan visi-misi sekolah. Sehingga tidak terjadi missunderstanding dalam pencapaian goal.
Dengan kesepahaman ini juga, berarti OSIS menghargai peran kepsek sebagai eksekutif sekolah. Namun, kadang di sekolah-sekolah kepsek terlalu “gengsi” untuk terjun langsung ke lapangan dan memperhatikan “anak buahnya” sedang merealisasikan visi-misi sekolah kepsek tersebut. Bukannya OSIS minta perhatian, tapi memang itu sudah menjadi kodratkan? Selain itu, MoU ini juga akan menyeimbangkan fungsi dari MPK dan OSIS secara komprehensif
Intervensi dari Pembina OSIS yang Proporsional
Pengurus OSIS tidak ada yang sempurna, begitu pula dengan pengurus MPK. Namun kedua pengurusnya juga bukan anak kecil yang tadak bisa apa-apa. Sehingga perlu adanya intervensi yang kondisional dan proporsional dari pembina selaku orang yang telah matang pemikirannya. Intervensi di sini tidak bermakna tunggal yakni “nasehat atau teori-teori”, yang diminta OSIS dan MPK dari pembina adalah motivasi dan keteladanan. Dengan motivasi, tentu pengurus OSIS akan antusias melaksanakan amanah yang diembannya. Motivasi itu laksana”belaian hangat saat kedinginan dengan kejenuhan dan kelelahan”. Melalui keteladanan, pengurus OSIS akan tahu lebih jelas “ bagaimana sesuatu dilaksanakan dengan efektif”
Pemahaman guru yang tidak parsial
Sebagai siswa kewajibannya memang belajar, tapi apakah belajar merupakan kewajiban setiap waktu. Di sini penulis bermaksud untuk meluruskan “jika ada” konsepsi guru yang keliru dari OSIS. OSIS bukan tempatnya siswa-siswa yang malas masuk kelas dengan alasan adanya “rapat mendadak”. Tapi memang itu kewajiban di OSIS. Yang jadi masalah, sebenarnya penetapan rapat itu dan harus adanya kepahaman dari guru kalau “dia” adalah pengurus OSIS. Bukankah rapat tidak setiap minggu? Sebenarnya, dukungan yang ikhlas dari gurulah “bahan bakar” utama kinerja OSIS. Dengan dukungan dan kemauan untuk feedback materi tertentu saat di tinggalkan si OSIS, itu berarti telah menghargai eksistensi OSIS di sekolah tersebut. Jangan sampai ada ungkapan” Untuk apa aktif di OSIS, selain menguras waktu, dimarahin guru lagi” dukungan yang ikhlas dari guru adalah bahan bakar pengurus OSIS untuk menggoalkan visi-misi sekolah.
Pengurus yang Berkualitas
Ini adalah masalah internal OSIS yang cukup berpengaruh terhadap kinerja OSIS tersebut. Yang dituntut harus dimiliki oleh pengurus adalah jiwa disiplin, leadership dan intelejensi. Walau dianggap tidak terlalu penting, namun pada realitanya intelejensi sangat berpengaruh kepada kematangan dan kesistematisan planning. Sehingga supaya kepengurusan mampu membantu sekolah dalam realisasi visi-misi diperlukan pengurus-pengurus yang berkualitas dan tepat posisi. Tepat posisi dalam arti kedudukannya di OSIS sesuai dengan potensi dan kemampuannya. Jangan sampai yang hobi “mengangkat kursi” di jadikan sebagai sekertaris. Nanti proposal tidak ada hurufnya lagi( bercanda).
Yang jadi masalah, kebanyakannya yang menjadi pengurus OSIS tersebut hanya orang-orang yang “populer”. Seperti yang “tercantik” disekolah menjadi bendahara atau sekretaris dan yang paling “menakutkan” wajahnya menjadi dewan keamanan. Atau yang paling hitam kulitnya mengurusi bagian kepramukaan dan yang punya jenggot sebelum waktunya dijadikan kepala bidang religi. Padahal tentu fungsi OSIS akan maksimal jika yang diperhatikan kemampuan dan loyalitasnya terhadap OSIS tersebut,
MPK yang Bertanggung-jawab
MPK selaku “kaka” dari OSIS sudah seyogianya membimbing dan menasehati OSIS, bukan menjadi saingan dalam merebut perhatian kepala sekolah. Peran MPK sesungguhnya cukup mempengaruhi terhadap kebijakan-kebijakan yang dilakukan OSIS, agar seluruh sepak-terjang OSIS merupakan tindakan konstruktif yang tidak hanya buang-buang dana. Walaupun sudah kelas tiga dan siap menghadapa UN yang kian tahun makin menakutkan saja , sudah menjadi kewajiban kalau pengurus MPK tetap konsist terhadap amanah yang diembannya. Jangan UN dijadikan sebagai “sabun” untuk cuci tangan. Mungkin bisa dimengerti tentang urgensi UN, tapi UN bukan segalanya kan?
MPK pun sebenarnya juga mempunyai kewajiban untuk selalu dan selalu menemani tiap langkah yang selalu diayunkan oleh OSIS, walaupun hanya sekedar memperhatkannya dengan mata. Agar terjadi kesepahaman antara OSIS dan MPK agar nantinya mudah dalam hal pertanggungjawaban amanah kepada Pembina lalu ke Wakasek kesiswaan kemudian ke kepsek.
Anggota yang Tahu Diri
Anggota di sini adalah seluruh murid yang mengakui eksistensi dari OSIS. OSIS tentu akan bergerak efektif jika sistem yang ada juga dapat menjadi katalisator aktualisasi goalnya. Peran anggota ini semestinya sebagai penyemangat sekaligus pendukung kegiatan OSIS yang positif. Namun pada realitanya, para anggota ini malah memperlakukan OSIS semaunya. Seperti memperlakukan OSIS sebagai pelayannya dalam kegiatan-kegiatan yang dipanitiai oleh OSIS, menertawakan keputusan OSIS yang dianggap terlalu “baik” dan menjadikan pengurus OSIS sebagai bahan ejekan. Mungkin banyak lagi hal lain yang terlalu pahit untuk ditulis di sini.
Dari semua uraian di atas, bukan nasehat sebenarnya. Cuma sekumpulan fakta yang disampaikan menyerupai sebuah nasehat. Padahal itu hanyalah sebuah tulisan sebagai tempat meluapkan semua hal yang dianggap penulis penting untuk dipahami orang lain.
Pendidikan dapat meningkat kualitasnya jika ada usaha yang kreatif dan inovatif. Pendidikan pun tidak mutlak hanya dari ruang kelas yang sempit itu, buka lah pikiran anda tentu sumber ilmu dan pengetahuan itu akan semakin anda lihat. Cara yang lama pun belum tentu selalu dapat menghasilkan hasil yang sama. Kini saatnya pendidikan kita juga memperhatikan hal-hal lain yang sangat berpengaruh terhadap “warna” pendidikan yang dulunya “bening”.
Semoga dengan adanya OSIS dan MPK di sekolah masing-masing mampu memupuk kesadaran akan pentingnya demokrasi yang terbuka dan elastis konstruktif. Selain itu pula, dengan adanya OSIS diyakini mampu menambah keahlian para siswa dalam public speaking, sehingga nantinya jika ada diskusi di kelas. Tentu tidak ada yang hanya menjadi “siput dan katak dalam tempurung” bukankah saat ini sangat sulit membenarkan pepatah “ tong kosong nyaring bunyinya”? dalam kehidupankan, malah yang berisi itu yang bisa “berbunyi dengan teratur”.
Jadikan OSIS benar-benar steril dari intervensi “kepentingan-kepentingan”. Jadikan OSIS sebagai tempat untuk belajar. Dengan ungkapan “ dari siswa, oleh murid dan untuk pelajar !!!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: